Wednesday, June 24, 2009
Idealisme Vs Realitas
Aku sering takjub bagaimana waktu bisa begitu mengubah hidup seseorang. Aku tak terlalu paham apa yang telah terjadi, tapi melihat beberapa respon dari teman-teman… tampaknya saat ini aku telah berubah menjadi seseorang yang skeptis dan sinis. Kesadaran ini datang dari “ketersinggungan” beberapa teman atas komentar-komentar yang aku lontarkan. Hmm, benarkah? Am I being skeptical and cynical?

Ada suatu masa dalam hidupku di mana segala sesuatu yang tampak dalam benak rancangan hidup adalah kehidupan yang serba idealis. Dari pemahamanku tentang peran utama seorang perempuan, waktu itu aku sangat berharap bisa menjadi stay-at-home mom. Atau kalaupun berkarir, bisa berkarir dari rumah. Nyatanya Allah menakdirkan lain.

Dalam hal pernikahan, terinspirasi dari romantisme masa kecil tentang negeri dongeng, hal yang terbayang adalah sebuah pernikahan yang happily ever after tanpa tetek bengek yang menyusahkan. Tak ada bayangan cerita soal princess yang kebingungan mencari dayang untuk mengasuh anak-anaknya karena ia harus bekerja sementara pangeran tinggal beda kota dan beda istana, atau princess yang tidak akur dengan mertua, atau princess yang bertengkar dengan pangeran, misalnya. Let me tell you, there is no such a fairytale.

Ketika hidup berbenturan dengan idealismeku, maka yang menang adalah hidup. Hidup mengajarkanku bahwa ia tak seindah bayangan. Ya ya ya, terdengar klise memang. Tapi sungguh, ketika akhirnya kita lulus kuliah, bekerja, dan menikah… maka itulah sebenar-benar hidup. Kita dihadapkan pada kerasnya kehidupan dunia. Tak ada lagi hal-hal yang serba ideal, serba manis… yang ada hanya sikap realistis bahwa hidup tak semulus dan seindah yang dibayangkan.

Mungkin dari pengalaman seperti itulah, aku jadi agak bersikap ajaib terhadap teman-teman yang masih hidup dalam idealisme mereka. Seakan ingin membangunkan mereka dari mimpi yang melenakan. Ingin berseru pada mereka, “Wake up! There is no such a fairytale…

Aku tidak sirik. Apalagi iri. Karena aku yakin bahwa hidup punya takdirnya masing-masing—sesuatu yang wajib juga kita syukuri, karena takdir Allah pastilah yang terbaik. Aku hanya ingin mengingatkan mereka: ada banyak hal pahit dalam hidup ini. Bila hal pahit itu belum datang pada mereka, jangan terlampau senang. Karena tak mungkin Allah membiarkan hidup hamba-Nya mulus dan lempeng tanpa ujian.

Aku tahu, pencapaian yang sederhana berawal dari mimpi yang melangit. Aku tidak melarang orang bermimpi setinggi langit. Tapi kalau lantas hal itu membuat mereka tidak realistis, ya tidak sehat juga rasanya. Hanya ingin mengingatkan.

Hmm, mungkin itu ya yang membuatku menjadi (terlihat) begitu skeptis dan sinis memandang kehidupan?

Catatan:
Kisah lain tentang idealisme vs realitas ada di sini. Baca saja. Bagus untuk renungan.

Labels: ,

 
posted by Yustika at 8:54 AM | Permalink | 0 comments
Monday, June 15, 2009
Sosialisasi
Masalah klasik yang selalu hadir dalam keseharian seorang ibu muda adalah sulitnya bergaul atau hang out dengan teman. Maklum, anak masih kecil dan masih suka bergelung di pelukan bundanya. Atau kalau tidak, bundanya yang sering kangen dan tidak tahan meninggalkan si kecil lama-lama.

Aku tipe yang senang main dan jalan-jalan. Apalagi kalau teman-teman yang ikut cukup banyak. Sebelum menikah, tak pernah terbayangkan bahwa kehidupan sosial di luar rumah akan “terkorbankan” seperti ini. Pastinya kesadaran tentang itu tetap ada. Hanya tak pernah berpikir bahwa hal ini akan menjadi masalah.

Yah, sebetulnya bukan masalah yang gawat juga sih. Sempat merenung sejenak soal ini ketika beberapa waktu lalu suami mengeluh bahwa kehidupan sosialnya dengan teman-teman sekantor tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Pasalnya, tiap akhir pekan ia mesti ke Bandung menyambangi anak istrinya, sementara biasanya justru di akhir pekan teman-temannya mengadakan acara. Sebut saja acara pernikahan, sebagai contoh. Untuk itu ia harus memilih, absen dari acara itu atau absen dari anak istrinya. Bukan pilihan yang menyenangkan kalau ia harus terus-terusan absen dari acara pernikahan teman-temannya.

Bagaimana dengan aku? Sama saja. Akhir pekan seperti jadi harga mati untuk berada di rumah, karena saat itu suami datang. Bisa ditebak, akhir pekan bakal full untuk anak dan suami, dan terpaksa harus menepis ajakan teman-teman untuk sekedar bertemu atau jalan-jalan.

Masalahnya tak akan jadi pelik kalau teman-teman sejawat juga sudah sama-sama punya anak. Jadi kan bisa seperti family gathering. Sayangnya sebagian besar belum menikah, dan acara hang out selalu identik dengan gaulnya kaum lajang. Tak enak juga kalau dalam acara-acara seperti itu kita sendiri yang mengajak anak dan suami.

Pernah suatu kali aku tak diajak dalam acara kumpul-kumpul. Entah karena aku yang terlalu sering menolak ajakan sejenis—karena alasan yang sudah aku ungkapkan di atas—atau memang karena kuota sudah terlalu banyak, yang jelas: ada sebersit rasa tak dianggap. Mungkin aku sedang agak sensitif juga sih waktu itu.

Pernah juga suatu kali aku ikut acara karaoke selepas maghrib hingga malam. Meskipun hati agak tak tenang karena sudah seharian meninggalkan Hanif di rumah, aku ikut juga karena ingin berpartisipasi dalam acara hang out teman-teman, dan supaya kejadian “tak dianggap” di atas tidak terulang. Sedikit memaksakan diri dan merasa bersalah setelahnya. Duh…

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, hanya aku di kantor ini yang notabene seorang ibu muda namun tetap eksis di acaranya kaum lajang kantor. Ibu-ibu muda yang lain lebih memilih untuk cepat-cepat pulang menjumpai anak. Bukannya aku tak sayang anak. Ini lebih kepada upaya untuk tetap eksis dalam dunia sosialisasi kantor. Tak dapat kupungkiri, aku masih mencari formula yang tepat untuk memposisikan diri di antara rumah dan luar rumah. So, any suggestion?

Labels: ,

 
posted by Yustika at 2:54 PM | Permalink | 0 comments
Friday, June 12, 2009
Narsis!
Ada seorang teman yang selalu membuatku merasa terintimidasi lewat update cerita, foto, dan komentar yang mengindikasikan keberhasilan dan pencapaiannya, di sebuah situs jejaring sosial. Semula aku mencoba berprasangka baik. Mungkin dia ingin membagi kisah suksesnya untuk memberi inspirasi bagi orang lain, atau sekedar berbagi cerita untuk menularkan kebahagiaannya.

Tapi lama-lama kok jadi eneg. Pasalnya, tiap kali aku berkomentar atau memberi pujian sedikit, dia makin ngelunjak. Komentar balasannya bernada meremehkan atau memberi indikasi-indikasi keberhasilannya berikutnya. Seakan-akan dia yang paling berhasil dan orang lain tidak seberhasil dia, atau orang lain tidak tahu apa-apa.

Bah! Sebenarnya maksud dia apa ya. Sebal sekali aku melihatnya. Sekaligus mengelus dada, betapa banyaknya media yang bisa dijadikan ajang narsisme sekarang ini. Juga betapa banyaknya orang yang menyalahgunakan media-media tersebut menjadi ajang narsisme untuk pamer pencapaian. Jadi ingat tulisan ini dan ini.

Well, sebenarnya mau narsis atau tidak narsis… itu hak setiap orang. Tapi kalau hal itu lantas membuat dia menyombongkan diri dan meremehkan orang lain… itu yang aku TIDAK SUKA.

Labels: ,

 
posted by Yustika at 9:50 AM | Permalink | 0 comments
Dua Sembilan ??
Ketika aku mempersiapkan pernikahanku dua tahun silam, beberapa pihak terkait tidak percaya akan usiaku yang menjelang dua puluh lima waktu itu. Mereka pikir usiaku masih di bawah itu (baca ini).

Sekarang pun aku masih sering dikira lebih muda daripada usiaku sebenarnya. Anak-anak PKL di kantor sering memanggilku “Mbak” dan tidak mengira aku sudah punya anak, bahkan ada satu yang mengira aku masih kuliah dan sedang PKL juga ^^

Maka ketika aku mengingat kejadian sore itu, aku bisa terkikik sendiri. Kira-kira begini nih dialog antara aku dan Apriel—teman di tempat senam—waktu itu.

Apriel : “Bu, hari ini aku ulang tahun lho.”

Aku: “Oh ya? Selamat ya. Yang keberapa?”

Apriel: “Dua puluh tiga, Bu.”

Aku: “Wah, masih muda ya. Selisih… umm… empat tahun sama aku nih.”

Apriel: “Ha? Cuma empat tahun? Jadi ibu dua tujuh ya. Aku kira ibu dua sembilan.”

Aku: “Haaaa?? Dua sembilan???”

Giliran aku yang ternganga. Memangnya tampangku setua itu ya? *garuk-garuk kepala*

Labels:

 
posted by Yustika at 9:47 AM | Permalink | 0 comments
Tuesday, June 02, 2009
Lika-Liku Laki-Laki
Dalam kesempatanku mengunjungi kembali rumah kami di Cikarang akhir Mei lalu, tak ada yang lebih mengejutkan selain berita itu. Tetangga yang kami kenal baik, sebut saja pasangan suami istri Bu M dan Pak J, sedang dalam proses bercerai. Berita itu kudengar dari asisten rumah tangga mereka ketika aku sedang mengasuh Hanif di jalan depan rumah kami.

Di mataku, mereka adalah pasangan ideal. Sama-sama satu rumpun sebagai orang Jawa, yang satu cantik dan yang satu ganteng, satu almamater di UGM, dua-duanya sukses dalam karir, dan dikaruniai seorang putri cantik yang menyenangkan. Mereka ini pasangan muda, paling-paling keduanya masih di kisaran usia pertengahan 30-an. Putri mereka saja masih kelas 1 SD. Secara materi, mereka berkecukupan. Rumah bagus, dua kali lebih luas daripada rumah lain—karena mereka membeli dua rumah berdampingan lalu dijadikan satu, serta dilengkapi dua mobil pribadi.

Kehidupan mereka pun tampak menyenangkan. Selalu tampil sebagai keluarga harmonis dan bahagia. Selalu tampak rukun dan saling mendukung. Yah, setidaknya seperti itulah kesan yang kutangkap ketika aku tinggal di sana dulu. Tapi di balik kehidupan ideal itu, ada sesuatu yang harus dikorbankan: waktu Pak J. Sebagai karyawan ASTRA yang berkantor di Sunter, tiap hari Pak J harus pergi pagi-pagi dan pulang larut malam. Waktu luang untuk keluarga hanya ada di akhir pekan.

Aku tak pernah mengira mereka akan berakhir seperti ini. Dengar-dengar dari asisten itu (Ya Allah, bukan maksud hamba bergosip, asisten itu yang bercerita sendiri sementara hamba diam saja) Pak J sudah menikah dengan sekretarisnya di kantor dan sudah pisah ranjang dengan Bu M dua bulan ini. Mereka bercerai karena Bu M tidak mau dimadu.

Sore itu ketika putri mereka sedang bermain bersama Hanif, aku memandangnya iba. Aku ingat betapa riangnya ia tiap kali mereka bertiga berkumpul atau meluangkan waktu bersama. Sebagai anak dari kedua orang tua yang berkarir, waktu dengan ayah bundanya tentu menjadi hal yang mahal, hal yang membuatnya berbinar. Kini ia terpaksa bermain-main sendiri karena bundanya jadi sakit-sakitan akibat kejadian ini. Aku miris membayangkannya merindui ayahnya. Aku miris membayangkannya merindui keceriaan bundanya. Aku miris karena ia terpaksa harus jadi anak tunggal korban perceraian, tak ada saudara tempat berbagi. Masya Allah...

Aku terhenyak. Tak tahu harus berpendapat apa. Terlepas dari siapa yang bersalah, aku ingin membahas hal ini sedikit. Sebenarnya, apa sih yang membuat para suami pindah ke lain hati? Mengingat mereka ini pasangan muda, seharusnya jenuh atau bosan bukan faktor utama. Seharusnya kenangan merajut impian di masa-masa awal pernikahan masih jelas terpatri. Mengapa semudah itu jatuh ke pelukan perempuan lain? Apakah karena jarang bertemu dengan sang istri? Apakah karena lebih sering bertemu dengan si sekretaris?

Kalau jawabannya ya, alangkah mengerikannya kehidupan Jakarta. Faktor jarak dan waktu merampas kehidupan keluarga. Demi alasan bisnis, keluar dengan perempuan lain menjadi hal biasa. Ingat bahwa witing tresna jalaran saka kulina. Apa karena itukah?

Hati laki-laki seperti gua. Gelap dan sulit diraba. Aku tak pernah mengerti jalan pikiran mereka, juga hati mereka. Mengapa suatu saat mereka bisa sangat romantis, lalu mengapa kali lain juga bisa menyakiti hati perempuan sedemikian rupa? Apa yang laki-laki cari dalam diri seorang perempuan? Apakah ikatan suci pernikahan tak ada maknanya? Apakah anak-anak tak ada artinya?

Kalau sudah begini, aku jadi ngeri membayangkan kehidupan Jakarta. Yang tak kuat iman bisa tergoda. Lihat saja berita-berita di televisi itu, betapa godaan perempuan maha dahsyatnya. Aku sadar sepenuhnya, kehidupan pernikahanku yang sangat tidak ideal karena hidup terpisah dengan pasangan—kalau dipikir-pikir—rentan dengan hal-hal semacam ini. Sementara umur pernikahan ini baru seumur jagung, masih terus membangun komunikasi—yang tak juga kunjung solid. Semoga Allah menyelamatkan dan menjaga kami.

Labels:

 
posted by Yustika at 4:23 PM | Permalink | 1 comments
Ayahku Idolaku
Dulu ketika aku menjalani masa kehamilan dan masa awal lahirnya Hanif, aku hampir selalu khawatir bila Hanif tidak punya figur kuat tentang ayahnya. Kehadiran ayahnya yang cuma dua hari setiap minggu cukup beralasan untuk membuatku berpikir bahwa ia tidak akan pernah bisa akrab dan dekat dengan ayahnya. Bagiku ini adalah masalah pelik, mengingat ia laki-laki dan butuh figur ayah sebagai role model. Ternyata dugaanku meleset.

Tiap kali Ayah datang, Hanif dengan semangat empat lima menyongsongnya. Sambil tertawa-tawa riang, ia menghambur ke pelukan Ayah. Selanjutnya bisa ditebak. Selama akhir pekan, tak mau dia pisah dari Ayah. Inginnya bermain-main terus bersama Ayah, tak peduli malam sudah larut sekalipun. Bunda jadi tak laku, apalagi si Mbak.

Berdua, mereka memainkan permainan yang tak pernah Hanif mainkan bersama Bunda. Permainan laki-laki, sebut Bunda. Seperti loncat-loncatan, jungkir balik, gendong-gendongan di atas pundak dan punggung, dan sederet permainan lain yang Bunda males mainkan karena bikin capek, hehehe.

Syukurlah kalau Hanif sangat dekat dengan Ayah. Meskipun masih kecil, ia sudah punya ikatan dengan Ayah. Tak apalah Bunda tak laku, toh jadi malah bebas punya waktu untuk diri sendiri, hehehe.

Labels: ,

 
posted by Yustika at 4:18 PM | Permalink | 0 comments
Senior = Tidak Nyaman ??
Dalam dunia kerjaku di kantor, selain kegiatan rutin yang menjadi tupoksi (tugas pokok dan fungsi) sehari-hari, aku juga terlibat dalam kegiatan dua tim pelaksana—yaitu Tim Web dan Tim Inventaris Barang Milik Negara—serta kepanitiaan Seminar Nasional 2009.

Selama ini, rekan kerja maupun rekan tim mayoritas adalah anak-anak muda yang sebaya denganku. Oleh karena itu, aku sangat terbiasa dengan gaya dan dunia yang hampir sama. Pertama kali ikut serta dalam rapat Tim Inventaris Barang Milik Negara, aku kaget juga. Ternyata sebagian besar anggota yang lain sudah jauh lebih senior. Olala!

Masalah senioritas seharusnya bukan masalah besar. Tapi tetap saja, hal itu menyisakan banyak kecanggungan buatku. Yah, bayangkan bila selama ini kerap beradu diskusi dengan teman yang seumuran, kini tiba-tiba berhadapan dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang seumur papi-mamiku. Bagaimana tidak kaget, adaptasinya harus seperti apa, coba. Cara kerjanya berbeda, cara berpikirnya berbeda, bahkan guyonannya pun berbeda. Fiuhh...

Sebenarnya aku tahu, cepat atau lambat aku pasti akan berurusan dengan para senior juga. Cuma kok ya masih terkaget-kaget saja. Ada selintas pikiran negatif, bahwa bekerja dalam tim ini tidak akan senyaman seperti di tim lain yang sudah-sudah. Huh, lagi-lagi masalah comfort zone yah. Masalah klasik.

So, positive thinking sajalah. Jalani dengan sebaik-baiknya. Have fun saja, barangkali ini malah kesempatan baik untuk menggali ilmu dari para senior itu. Ayo Yustika, semangatttt!!!

Labels:

 
posted by Yustika at 4:05 PM | Permalink | 0 comments
Friday, May 29, 2009
Ketika Hanif Harus Dioperasi

[catatan 6 Mei 2009]

Akhir pekan ini terasa singkat. Peristiwa demi peristiwa berlangsung cepat dan terasa seperti mimpi. Seperti baru kemarin aku pulang dari clearance sale di lantai dasar BIP itu.

Jadi ceritanya, Jumat 1 Mei itu, sepulang kerja aku tidak langsung ke rumah. Aku pergi ke BIP untuk membeli bahan makanan Hanif dan berencana ke BEC untuk mengambil notebook yang hampir seminggu tak kunjung selesai juga perbaikannya.

Seperti layaknya perempuan biasa di awal bulan ketika melihat clearance sale besar-besaran, aku tergoda mampir ke gerai di lantai dasar BIP, lalu menghabiskan waktu hampir satu setengah jam untuk memilih dan mencoba baju. Tak tahu saat itu di rumah Hanif sedang menangis kencang karena kesakitan.

Sesampai di rumah, aku merasa ada sesuatu yang gawat (halah!). Mbak Nunung, asisten rumah tanggaku yang biasanya cuma bekerja setengah hari, masih ada di situ sambil menggendong Hanif yang merintih. Mbak Sari, pengasuh Hanif, bilang Hanif baru saja menangis kencang seperti yang sudah-sudah. Keduanya menunjukkan padaku benjolan keras di atas skrotum Hanif (kalau di perempuan, posisinya mungkin sejajar sama rahim) sebelah kanan. Seketika hatiku berdesir. Hanif harus dibawa ke dokter saat itu juga.

Tanpa ganti baju atau kerudung, aku langsung memacu motor ke RS St. Borromeus memboncengkan Mbak Sari dan Hanif (nasib jadi single parent di hari kerja begini). Bingung harus ke mana (karena dokter spesialis anak dan dokter umum sudah pada tutup, posisi waktu ada di pukul 19.20), aku menuruti saran suster untuk langsung ke dokter bedah. Diagnosis dr. Arthur Tobing, Sp.B (dokternya baik dan ramah banget bo!) langsung bilang bahwa itu hernia dan disuruh langsung rawat inap. Aku bengong, nggak ada persiapan apapun untuk rawat inap. Makin bengong lagi setelah dokternya bilang, kalau benjolan masih ada juga dalam beberapa jam observasi ke depan, Hanif harus dioperasi malam itu juga (hah?!).

Sambil mendengarkan omongan dokter, ingatanku terbang. Sudah ada sebulan ini Hanif kadang menangis kencang. Kadang seminggu dua kali atau sekali. Kalau sudah menangis seperti itu, bisa makan waktu sejam lebih... nggak mau diam juga. Dokter juga menyebutkan beberapa gejala hernia, antara lain jadi susah BAB dan muntah-muntah. Hmm, Senin lalu Hanif memang sempat sembelit. Tapi setelah BAB (meski dengan perjuangan ekstra keras sampai nangis-nangis kencang), dia sudah ceria lagi. Jadi kupikir itu sembelit biasa. Hmmm, lalu malam Rabu dia juga muntah-muntah 7-8 kali semalaman. Tapi setelah bisa tidur, paginya dia sudah biasa lagi. Jadi kupikir itu masalah kembung biasa saja.

Makanya dokter langsung bilang kata “operasi“, karena gejalanya sudah cukup lama. Takut terlambat, takut usus sudah telanjur terjepit katanya. Jadi karena usus terjepit, sirkulasi makanan dan udara jadi tidak lancar. Akibatnya, susah BAB dan kembung trus muntah-muntah deh. Siyyal, kenapa aku nggak curiga sebelumnya yak.

Ketika sedang menunggui observasi Hanif di UGD, suamiku datang. Tadi sempat kutelepon untuk langsung datang ke UGD saja sesampainya dari Jakarta. Menimbang-nimbang sebentar, kami akhirnya setuju untuk operasi. Sepertinya terlalu berbahaya kalau operasi ditunda, mengingat gejalanya sudah cukup lama. Ingin menangis rasanya melihat Hanif kesakitan begitu. Ya sakit karena hernia, juga sakit karena ditusuk jarum infus sampai tiga kali. Sampai tersengal-sengal dia, saking lama dan kencang nangisnya.

Pukul 22.10, tiga jam setelah dibawa ke RS, Hanif masuk ruang operasi. Masya Allah, nggak kebayang aja, anak sekecil dia harus dioperasi. Kalau orang lain mungkin ada ya. Tapi ini terjadi pada anak sendiri, membayangkannya saja tidak pernah. Aku sempat menggendong Hanif sebentar, sebelum akhirnya terpaksa melepasnya pergi digendong suster ke balik pintu kamar operasi.

Malam itu di ruang tunggu, aku duduk sendiri. Suamiku pulang untuk mengantar Mbak Sari dan mengambil baju-baju Hanif. Pikiranku berkecamuk ke mana-mana. Semua terasa seperti mimpi. Masih setengah sadar kalau saat itu tengah menunggui Hanif dioperasi. Alhamdulillah doa dan dukungan terus mengalir, lewat sms, telepon, dan Facebook (hihihi, teteupp aja fesbukan). Aku jadi merasa tidak sendirian.

Operasi berjalan satu seperempat jam. Setelahnya aku dipanggil ke dalam untuk menunggui Hanif yang masih setengah sadar. Dokter bilang operasi lancar. Ternyata usus Hanif benar sudah terjepit. Untung nggak sampai biru, kata dokter. Kalau yang versi parah, setelah usus terjepit, membiru, lalu jadi infeksi dan bisa membusuk. Kalau sudah busuk kan harus dipotong dan dibuang. Hiiii, ngeriii. Alhamdulillah belum terlambat bagi Hanif. Untung tadi kami langsung setuju operasi.

Sabtu menjelang subuh, Hanif sadar sepenuhnya. Menangis lah dia, rupanya lapar dan haus. Setelah kenyang disusui, langsung tidur lagi sampai jam sembilan pagi, hehehe. Setelahnya, semua berjalan lancar. Hanif bisa ceria lagi. Tingkah polahnya sudah ke sana kemari, seperti tak pernah sakit saja dia. Karena progresnya terus membaik, Minggu pagi dokter memutuskan Hanif boleh pulang. Tinggal perawatan luka operasinya saja yang harus hati-hati.

So, here I am. Mencoba mengambil hikmah dari segala yang terjadi. Kata mamiku, seorang ibu adalah dokter pertama anaknya. Ibu-lah yang harus pertama tahu kalau ada hal yang tidak beres pada anaknya, yang pertama aware kalau anaknya sakit. Berarti parah juga aku yak, sampai Hanif harus dioperasi begitu. Hhh, merasa tidak becus jadi ibu nih. Lagi-lagi merasa bersalah karena spend a lot of time di luar rumah dan tidak ada di sana ketika sesuatu terjadi pada Hanif (ini yang aku benci dari menjadi-ibu-bekerja). Hmm, rasanya skill keibuanku harus diasah lagi.

Terima kasih untuk semua yang peduli dan telah mendoakan ya. Atas perkenan Gusti Allah dan doa kalian, semuanya lancar jaya (mengutip kata-kata Nana, hehehe). Rencana akhir pekan yang semula akan jalan-jalan ke pameran buku Kompas – Gramedia di Sabuga, jalan-jalan ke Cikarang dan Jakarta, serta menghadiri pernikahan Baso, ternyata harus diganti dengan jalan-jalan di rumah sakit. Alhamdulillah, peristiwa ini makin menjadikan kami bersyukur bahwa hidup dan kesehatan adalah anugerah, dan bahwa Hanif adalah karunia dan amanah yang harus kami jaga baik-baik. Memang benar skenario Gusti Allah yang terbaik. There’s always a silver lining in every cloud.

Labels: , ,

 
posted by Yustika at 5:49 PM | Permalink | 1 comments
Monday, April 06, 2009
Indah Pada Waktunya

Dalam hidupku, beberapa kali aku melihat rumput tetangga tampak lebih hijau. Dulu ketika aku nggak lulus-lulus kuliah, aku sering mengeluh pada-Nya... bahwa hidupku tak semulus hidup orang lain. Kenapa si anu sudah begini, kenapa si anu sudah begitu, kapan datangnya waktuku, dan masih banyak lagi.

Saat ini, melihat kembali perjalanan hidupku, aku jadi malu sendiri. Memang skenario-Nya yang terbaik, menjadikan segala sesuatu dalam hidupku indah pada waktunya. Tidak terlalu lambat, juga tidak terlalu cepat. Melainkan tepat pada waktunya.

So, here are some milestones of mine:


2006

  • Lulus kuliah

2007

  • Beli rumah (sama calon suami waktu itu)
  • Nikah

2008

  • Dapat kerja
  • Hanif lahir

2009

  • SK PNS turun


Alhamdulillah. Syukur tak terkira atas segala nikmat-Nya. Resolusi dan milestone lain menyusul ya ;)

Labels: ,

 
posted by Yustika at 3:19 PM | Permalink | 0 comments
Manisnya Berbagi

Satu hal yang amat kukagumi dari suamiku adalah kemurahan hatinya. Dibesarkan dalam keluarga yang mengerti benar tentang arti kesederhanaan, ia tidak lantas bersikap eman terhadap miliknya. Suka sekali ia memberi, terutama terhadap orang-orang yang memang layak menerima.

Sore itu, kami termangu di lobi BIP, memandangi hujan yang turun dengan lebatnya. Parkir motor ada di seberang jalan, dan kami sama sekali tidak membawa payung. Di pinggir jalan, cukup ramai orang menawarkan ojek payung.

”Kita nekat saja yuk. Kasihan Hanif nunggu di rumah. Kita ke motor pake ojek payung, sekalian ngasih rejeki,” kata suamiku seraya meraih payung yang dipegang ojek payung di depannya, yang adalah seorang anak kecil. Ya, anak kecil. Dari obrolan selintas lalu, dia baru kelas 3 SD. Suamiku memilihnya karena ia lebih layak menerima dibanding ojek-ojek payung yang lain, yang rata-rata lebih dewasa.

Di parkir motor, suamiku menyuruhku memberi anak itu lebih dari dua kali lipat tarif ojek payung yang normal. Terus terang kami lebih suka memberi dengan cara seperti ini daripada memberi kepada peminta-minta. Memberi dengan cara ini bagai memberi kail, bukan ikan. Memberi dengan cara ini mengajari orang berusaha, bukan meminta-minta. Dan tentu, memberi lebih daripada yang ia layak terima adalah kebahagiaan tersendiri.

Subhanallah, satu momen lagi dalam hidupku, aku diajari suamiku arti memberi. Binar mata dan ucapan terima kasih anak itu lebih dari cukup untuk membuat hatiku berdesir haru sore itu. Hmm, begini rasanya: bahagia karena memberi. Alhamdulillah masih diberi-Nya kesempatan untuk merasakan bahagia versi ini.

Labels:

 
posted by Yustika at 3:11 PM | Permalink | 0 comments