Iseng
| You Are 54% Open |
![]() You are a fairly open person, but you also like to maintain your privacy. You definitely will tell all (okay, almost all) to your closest friends... But strangers and acquaintances only get a peek into your life. |
| You Are 54% Open |
![]() You are a fairly open person, but you also like to maintain your privacy. You definitely will tell all (okay, almost all) to your closest friends... But strangers and acquaintances only get a peek into your life. |
Infotainment dan Tanggung Jawab Pers
Di tengah perjuangan kemerdekaan pers di negeri ini, di saat pers yang berani bersuara lantang meneriakkan kebenaran sedang tersaruk menghadapi tuntutan, kita juga dihadapkan pada masalah etika tentang pemberitaan pers oleh tayangan-tayangan infotainment. Konsep awalnya, infotainment adalah acara yang menggabungkan antara informasi (information) dan hiburan (entertainment). Tetapi sesungguhnya, acara-acara semacam ini adalah gunjingan tentang orang ternama alias gosip.
Acara-acara infotainment yang menjejali layar televisi kita memiliki nama-nama yang berbeda, tetapi kemasannya hampir sama dan seragam. Kabar terbaru tentang seorang artis akan diberitakan sama hampir di semua acara-acara itu. Acara semacam ini memang menguntungkan pihak televisi karena pembuatannya murah dan menarik banyak iklan. Apalagi masyarakat sendiri menggemari berita-berita tentang orang-orang ternama. Makin seru, dramatis, dan kontroversial pemberitaannya, makin asyik orang menonton dan makin senang pula stasiun televisi menayangkannya.
Paul Kennedy, dalam bukunya Preparing for the Twenty First Century, menulis tentang trivialism, yaitu kecenderungan untuk menyukai hal-hal remeh. Kennedy meramal, trivialism yang diproduksi media massa akan membuat AS di masa depan tertinggal dan mengalami kebangkrutan ekonomi. Nah, bukankah materi yang disajikan oleh tayangan infotainment di negeri kita sungguh remeh, tak penting, tetapi membuat penonton menyukainya? Itulah trivialism!
Dengan gemar menyaksikan acara-acara infotainment, kita akan kehilangan kesempatan untuk menyadari substansi, perenungan, atau kedalaman dari hal-hal yang penting dan berguna, karena kita telah terbuai oleh hal-hal yang remeh saja. Yang lebih parah, muncul masalah etika karena banyak hal pribadi yang diangkat media ke wilayah publik melalui acara-acara infotainment. Banyak hal yang ditampilkan sangat mungkin melukai perasaan orang lain, amoral, dan tidak pantas.
Soal etika tampaknya dilupakan oleh media semacam ini. Sebab, selain pembuatnya kehilangan sensitivitas untuk menilai bahwa hal tersebut bermasalah, juga karena masyarakat menggemari santapan-santapan trivialism. Lalu, apalah artinya perjuangan media lain yang menjunjung kode etik dan menyuarakan kebenaran? [yustika]



KA Argodwipangga, Sabtu 1 Oktober 2006, 02.40 WIB
”Silakan,” kata pramugari kereta sambil menyodorkan sepiring nasi goreng dan segelas teh manis hangat ke hadapanku. Aku cuma menguap sambil mengucek-ucek mata. Jam segini udah dibangunin sahur, pikirku. Mana AC-nya dingin banget. Tengok kanan-kiri, penumpang lain udah mulai bersantap sahur. Ya sudahlah, dimakan aja.
Di tepi danau antara FIB dan FE UI, Selasa 3 Oktober 2006, satu jam menjelang buka
Di depanku, beberapa orang sibuk memancing. Di sampingku, Mas Catur sedang bercanda-canda nggak jelas. Duduk-duduk di tepi danau merasai angin sore yang sepoi emang terasa damai. Kulepaskan pandangan menuju bangunan-bangunan UI di kejauhan, lalu kutatap beberapa orang yang tengah memancing di atas jembatan penghubung di tengah danau.
Indah. Damai. Lalu senja merayap dengan temaram.
And one by one the nights between our separated cities are joined to the night that unites us.
(Pablo Neruda)
Jalanan Jakarta, Jumat 6 Oktober 2006, dua jam menjelang buka
So here I am. Paman nganterin aku ke Gambir naik mobil. Tadinya aku mau naik KRL ekspres Depok-Gambir, tapi ternyata malah dianterin langsung. Ya sudah, alhamdulillah. Itung-itung sambil jalan-jalan liat Jakarta.
Jalanan emang sedikit macet, tapi tentu nggak separah ketika pagi hari. Di sampingku, Arif --sepupuku yang masih TK-- sibuk nyanyi ngikutin kaset Radja sambil pake kacamata item milik ayahnya. Oalahh, dasar zaman sekarang. Anak kecil aja udah hapal lagunya Radja. Ikutan pake kacamata item pula... duh duh duh...